• Wed. Aug 10th, 2022

banyak info

Menyajikan Info tentang Bisnis, Fasion, Tips trik, Otomotif, Politik, Kuliner yang Menarik dan bermanfaat

Start Up Besar Ini Terus Merugi. Kenapa Bisa?

Bywahyuhidayat

Jun 9, 2022 ,
Start Up Besar Ini Terus Merugi. Kenapa Bisa?

Bisnis startup memang identik dengan ‘bakar uang’ dan merugi demi mendapatkan pengguna sebanyak mungkin. Tapi jika kerugian yang dialami sangat besar, apalagi sudah berlangsung lama, tentu tetap menimbulkan kekhawatiran.

4 Start Up Besar Yang Merugi

Berikut ini beberapa satrtup mentereng yang ternyata rugi besar:

1. Ofo

Ofo yang asal China ini pernah menjadi startup bernilai USD 2 miliar. Mereka jadi pionir sewa sepeda online, di mana untuk itu, peminat cukup melakukan scan kode QR dan jika sudah selesai, dapat meninggalkan sepeda di mana saja.

Pada puncak ekspansi, Ofo beroperasi di sekitar 20 negara, dari Prancis, Australia sampai Amerika Serikat. Akan tetapi mereka terlalu agresif dengan mencoba membukukan pertumbuhan secepat mungkin dengan biaya sangat besar.

Akhirnya, Ofo pun keteteran. Kabar terakhir, startup asal China ini tidak mampu membayar utangnya yang menggunung.

Dokumen pengadilan menyebutkan, Ofo terbelit utang USD 36 juta atau di kisaran Rp 508 miliar pada pembuat sepeda Tianjin Fuji-Ta Bycicle Co yang dulu memasok sepeda pada mereka. Karena gagal bayar, Ofo diadukan ke pengadilan Tianjin.

Eksekutif top Ofo termasuk para pendirinya, Dai Wei dan Yang Pinjie serta General Manager Chen Jing, telah masuk daftar hitam pengadilan karena tak bisa memenuhi kewajiban pembayaran. Chen juga dilarang meninggalkan China.

Startup
2. Uber

Uber Agustus silam mengumumkan performa keuangan terakhirnya yang lagi-lagi tidak menggembirakan fortuna808. Untuk periode kuartal II 2018, perusahaan pionir taksi online ini menelan kerugian masif sebesar USD 5,2 miliar atau lebih dari Rp 71 triliun. Harga sahamnya pun jadi turun.
Bakar uang demi mendapatkan sebanyak mungkin pengguna mungkin jadi sebabnya. “Kerugian melebar dan kompetisi sangat panas,” sebut Haris Anwar, analis di Investing.com yang dikutip detikINET dari Reuters.

“Apa yang mengusik kepercayaan investor dan turunnya harga saham setelah laporan ini adalah absennya langkah yang jelas untuk menumbuhkan pendapatan dan memangkas ongkos,” tambah dia.

Kerugian USD 5 miliar jauh lebih besar dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD 878 juta. Di sisi lain, pertumbuhan pendapatan merosot 14% menjadi USD 3,2 miliar, lebih rendah dari estimasi analis sebanyak USD 3,36 miliar.

Tekanan pada perusahaan pun meningkat seiring kerugian yang terus terjadi pada Uber. Terlebih mereka saat ini adalah perusahaan publik karena sudah melakukan IPO (Initial Public Offering).

3. WeWork

Kejatuhan startup WeWork sedang jadi pusat perhatian di jagat bisnis maupun teknologi. Mereka sedang dalam posisi sulit karena mengalami rugi besar dan masih harus terus bakar uang. Tak heran jika sang CEO, Adam Neumann, dipecat.
Tanpa tambahan uang tunai, bisnis WeWork mungkin takkan dapat bertahan lama. “Perkiraan eksisting kami menunjukkan bahwa saat ini perusahaan tersebut membakar duit USD 2,8 milar per tahun,” demikian analisis dari Bernstein.

Dengan persediaan uang tunai USD 2,5 miliar, WeWork dapat berhenti beroperasi pada tahun 2020 seandainya tidak lagi mendapatkan kucuran dana. Namun demikian, WeWork kabarnya sudah berdiskusi dengan calon investor potensial untuk menyelamatkan bisnis.

WeWork membutuhkan setidaknya USD 6 miliar agar dapat beroperasi dengan cashflow positif. Jika ada resesi ekonomi menghantam, angka tersebut bisa melonjak sampai USD 8 miliar.

Salah satu penyebab keuangan negatif WeWork adalah ekspansi yang sangat agresif. Bayangkan saja dalam 3 tahun terakhir, mereka membuka lebih dari 400 lokasi co working space baru di berbagai negara.

Untuk memenuhi kantor dengan startup yang mau menyewa, WeWork kabarnya memberi diskon besar. Hal wajar di dunia real estate agar gedung tidak kosong, tapi kemungkinan, diskon yang diberikan terlalu besar. Paruh pertama 2019, WeWork rugi USD 900 juta. Tahun 2018, total mereka buntung USD 2,8 miliar.

4. Airbnb

Airbnb, startup yang bergerak di bisnis penginapan online, ternyata mengalami kerugian besar. Hal ini bisa menimbulkan keraguan di kalangan investor di tengah rencana Airbnb melantai di bursa saham pada tahun depan.
Dikutip detikINET dari Fox Business, The Information mengabarkan kerugian yang diderita Airbnb pada kuartal I 2019 adalah USD 306 juta atau Rp 4,3 triliun. Angka itu naik dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Anggaran di bidang marketing dan sales naik 58% menjadi USD 367 juta. Secara total, pengeluaran untuk kuartal tersebut melonjak 47%. Adapun pendapatan naik hanya 31%.