• Thu. May 6th, 2021

banyak info

Menyajikan Info tentang Bisnis, Fasion, Tips trik, Otomotif, Politik, Kuliner yang Menarik dan bermanfaat

Syarat-Syarat Aqiqah

Byrifep

May 4, 2021

 

jasa aqiqah – Apakah syarat aqiqah sama dengan syarat qurban ?

Mayorits ulama memandang bahwa syarat-syarat aqiqah sama dengan syarat-syarat yang diperlukan untuk qurban, yaitu termasuk salah satu jenis hewan ternak, cukup usia dan tidak cacat. Ima Malik mengatakan, “Aqiqah kedudukannya sama dengan nusuk dan qurbn, tidak boleh buta sebelah, kurus, patah tanduknya atau sakit.”

 

Imam at-Tarmidzi mengatakan, “Mereka katakana bahwa kambing untuk aqiqah tidak sah selain kambing yang diperbolehkan untuk qurban.” Ibnu Qudamah mengatakan, “Ringkasnya, usia hewan aqiqah harus sama dengan usia hewan qurban.” Ibnu Rusyd mengatakan. “Usia dan ciri-ciri hewan untuk ritual ini (yakni aqiqah) harus sama dengan usia dan ciri-ciri hewan qurban.”

 

An-Nawwi mengatakan, “Hewan yang diperbolehkan untuk aqiqah adalah hewan yang diperbolehkan untuk aqiqah adalah hewan yang diperbolehkan untuk qurban. Maka, tidak diperbolehkan selain domba usia dua tahun atau kambing usia tiga tahun ke atas, unta dan sapi. Inilah pendapat yang benar dan merupakan keputusan mayoritas ulama. Ada pendapat lain yang disebutkan oleh al-Mawardi dan lain-lain bahwa diperbolehkan juga untuk domba yang usianya kurang dari dua tahun dan kambing yang usianya kurang dari tiga tahun. Tetapi, pendapat pertama lebih tepat.”

 

Pendapat yang disebutkan oleh al-Mawardi didukung oleh asy-Syaukani dengan komentar, “Inilah pendapat yang benar.” Di katakana, “Apakah syarat-syarat yang diperlukan untuk aqiqah sama dengan syarat-syarat qurban? Ada dua pendapat dikalangan para ulama penganut mazhab Syafi’i. Disebutkannya ‘dua ekor kambing’ tanpa kaitan apapun dijadikan sebagai dalil tidak adanya syarat tersebut. Ini adalah pendapat yang benar.  Tetapi, bukan dikarenakan keumuman yang terdapat dalam kalimat diatas, melainkan karena tidak ada dalil yag mengarahkan kepada syarat-syarat dan cacat yang disebutkan pada hewan qurban. Karena, itu termasuk dalam kategori hokum syariat yang hanya bias ditetapkan dengan dalil.

 

Al-Mahdi berkata dalam kitab Al-Bahr, fatwa Imam Yahya: Diperbolehkan untuk aqiqah apa yang diperbolehkan untuk qurban, baik berupa unta, sapid an kambing, usianya dan ciri-cirinya. Seluruhnya termasuk dalam kategori mendekatkan diri kepada Allah dengan ritual penumpahan darah.”

 

Dapat dipastikan bhawa berdasarkan analogi ini, seluruh hokum qurban harus juga diterapkan pada setiap ritual penumpahan darah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menyembelih hewan untuk pesta, seluruhnya disunnahkan menurut orang yang berargumentasi dengan analogi ini. Sementara sesuatu yang disunnahkan berarti bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Artinya, pada hewan semeblihan untuk pesta  juga harus diterapkan hokum-hukum ritual menyembelih hewan qurban. Bahkan, diriwayatkan dalam salah satu pendapat Imam Syafi’i bahwa beliau menyatakan pesta pernikahan hukumnya wajib. Para ulama penganut paham Zhahriyah mewajibkan banyak jenis pesta. Tapi, saya tidak mengetahui ada ulama yang mengharuskan pada hewan-hewan yang disembelih untuk pesta-pesta itu adanya syarat-syarat yang sama dengan syarat –syarat dimiliki oleh hewan qurban. Sehingga, data disimpulkan bahwa analogi ini mengharuskan timbulnya suatu hokum yang tidak pernah dikemukakan oleh seorang ulama pun. Suatu analogi dikatakan keliru apabila mengharuskan sesuatu yang juga keliru.

 

Hal inilah yang juga dikemukakan oleh Ibnu Hazm. Untuk aqiqah, dia tidak menuntut adanya syarat yang sama dengan syarat-syarat hewan qurba. Dia katakana, “Hewan cacat boleh digunakan baik yang boleh digunakan untuk qurban maupun yang tidak boleh. Tapi, hewan yang sehat lebih baik>” Pendapat yang menyatakan bahwa hewan untuk aqiqah memiliki syarat-syarat yang sama dengan hewan qurban adalah pendapat yang rajah dan paling kuat.