• Sat. Jul 2nd, 2022

banyak info

Menyajikan Info tentang Bisnis, Fasion, Tips trik, Otomotif, Politik, Kuliner yang Menarik dan bermanfaat

Tips skripsi fakultas kedokteran yang bisa kamu coba

Bytoha

Jun 23, 2022

Setelah sebulan kuliah yang dipenuhi keringat, darah, dan air mata, akhirnya hari ini aku bisa update cukup banyak..hahaha. Kali ini aku mau bahas sesuatu yang tentunya bikin tiap mahasiswa uring-uringan. Bukan, bukan kehabisan stok indomie di akhir bulan, tapi… SKRIPSI.

Yak, mahasiswa kedokteran yang dulunya boleh berbangga karena tidak ada skripsi, entah sejak kapan tiba-tiba tercebur juga ke ‘kubangan’ ini. Katanya sih, kampus saya mulai skripsi sejak 2007..katanya. Siapapun yang menyetujui diadakannya skripsi bagi mahasiswa FK sepertinya sudah bosan hidup ya..

 

mungkin penasaran ingin merasakan digebukin sama para pejuang skripsi se-fakultas kedokteran. XD Beban kuliah kami sudah berat, masih ditambahin beginian juga.

 

“Ga usah sok nelangsa gitu keles, lu kira cuma fakultas lu yang cape?” -semua mahasiswa lain non-FK
Well, aku ngerti, semua fakultas dan jurusan pasti ada capeknya, tapi kami kebagian ganda.
Yep, sepanjang yang saya tahu, FK itu skripsinya paling duluan…dan ngambil ‘jatah’ di tengah perkuliahan. Saya tidak tahu bagaimana keadaannya di kampus lain, mungkin ada teman-teman yang FKnya buat jadwal skripsi di semester terakhir setelah selesai blok semuanya, seperti teman-teman kami di jurusan lain (siapa tahu?) tapi kampus saya mulai skripsi dari akhir semester 4.

 

 

 

Wih gila, cepet bener, udah kayak mahasiswa teladan yang mau lulus 3.5 tahun aja! Lantas, gimana tuh caranya kuliah sambil skripsi kedokteran ?

Ya begitulah, Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak kalian, aku akan napak tilas perjalanan skripsi dari awal sampai akhir.

 

..pertengahan blok respirasi..
“Ya, seperti yang kalian tahu, semester 5 kalian sudah buat proposal skripsi ya.” Dr. Ungu duduk di meja sambil utak-atik laptop. “Kalian kumpulkan judul skripsi dan nama calon dosen pembimbing kalian ke saya ya.”
Kelas langsung gaduh. Sebetulnya sih, yang bikin resah bukan masalah dosen pembimbingnya. Banyak banget stok dospem yang baik.

 

Nah masalahnya, judul skripsinya itu lho.. harus yang catchy, penelitiannya ga ribet-ribet amat, ga boleh sama antar teman. Ditambah lagi, zamanku itu, sistem dospemnya adalah REBUTAN.. siapa yang masukin judul duluan, dia yang chance terpilihnya lebih besar dibimbing sama dosen pilihannya. Lah, judulnya aja belom ada, gimana mau nge-tag dosen?

Singkat cerita, di saat semua orang kebingungan mau pilih judul apa, aku justru kebanjiran ide penelitian! Saking banyaknya, waktu itu aku sampai punya at least 1 judul penelitian untuk tiap disiplin ilmu, tapi akhirnya aku memutuskan pilih ke Herbal. Pilihan kedua adalah ke Ilmu Kesehatan Anak.

Gokilnya, waktu itu aku berharap pilihan keduaku itu ga keterima. Pertama, pas aku lihat daftar nama anak-anak yang mau ikut IKA, duh seriusan itu isinya *sorry* geng anak-anak paling rese di angkatan, kayaknya ga bakal enjoy kalau tiap bimbingan harus ketemu mereka.

 

Kedua, topik yang kupilih terlalu umum, jadi kayaknya sih dosennya kemungkinan akan pilih judul lain yang lebih menarik. Ketiga, waiting list mahasiswa yang mau ke dospem ini banyak banget!

Bersyukur, aku keterima di Herbal! Senang banget dapat pilihan utama, dan dosen yang memang aku incar sejak awal. Setelah itu, aku mulai buat rincian kasar ide penelitian, yang kemudian aku serahkan ke dosen pembimbingku. Awalnya, beliau agak kurang setuju dengan pilihan penelitianku.

 

Aku mau meneliti tentang daun afrika yang katanya bisa untuk menurunkan kadar gula darah, sehingga bisa jadi obat herbal untuk pasien diabetes, tapi pertimbangan utamanya adalah penelitian semacam itu bakal butuh biaya besar, karena harus dilakukan ke hewan coba. Beliau mengusulkan topik lain yang lebih menarik, dan kebetulan sedang booming, yakni infused water. Sehingga akhirnya aku ambil penelitian infused water tersebut.

 

Setelah judul di-approve, liburanku diisi dengan ngebut mengerjakan Bab 1. Inilah pertama kalinya dalam hidup aku ngerasa waktu liburku berkurang drastis, bahkan rasanya kayak ga liburan sama sekali! Tapi, begitu tahun ajaran baru dimulai, aku bersyukur sih. Karena dospemku ternyata mengajar cukup banyak kelas pengantar untuk para maba, sehingga sulit sekali ditemui untuk bimbingan.

Mengingat waktu pengumpulan proposal yang masih cukup panjang (sekitar pertengahan Blok Endokrin, yakni awal Desember), ya selama blok Gastrologi aku hepi-hepi aja. Tipikal mahasiswa, anak-anak skripsi baru panik menjelang akhir blok Hepatologi, karena deadline sudah dekat. Mungkin sekitar sebulan kurang. Barulah kita ngebut-ngebut mengerjakan.

 

Biasa, kita bimbingan paling rajin sekali sebulan..tapi karena diuber deadline, aku bisa bimbingan 3-4x dalam seminggu! Bahkan aku sempat asal belajar untuk ujian tulis (jangan ditiru, ini beneran nekat banget), untung nilainya masih lumayan. Akhirnya, proposalku di-acc seminggu sebelum hari H